Bahaya Kegagalan Sistem Informasi

Tiba-tiba muncul keluhan dari ujung telpon: “Pak, saya dari kabupaten anu mau install program kartini tapi gagal”. Lalu di ikuti dengan sms penjelasan bahwa minggu lalu mereka mendapat pelatihan dari tim ini atau tim itu. Bukan keluhan seperti itu saja, hampir setiap minggu dengan volume rutin ada saja yang mengeluh tentang: ” Pak, saya sudah install tapi tidak bisa login dengan pesan Invalid user name and password, gimana ya. Tolong pak, kami butuh bimbingan”.

Fenomena seperti ini bukanlah hal baru dalam dunia IT. Pada konteks implementasi sistem informasi memang selalu muncul kejadian seperti ini. Bukan diluar dugaan kalau fenomena seperti ini juga terjadi pada implementasi program kartini yang menjadi alat pendukung utama dalam pengolahan data kegiatan PWS KIA. Lalu muncul pertanyaan dari beberapa sahabat di daerah yang sudah mengimplementasikan kegiatan ini lebih dahulu dibandingkan dengan daerah lain yang masih permulaan: Kenapa sih pak program ini tidak dilanjutkan sampai tuntas? Kenapa sih kegiatan seperti ini harus sama nasibnya dengan kegiatan-kegiatan lain? Atau kalau ada masalah teknis di lapangan siapa yang akan membantu menangani-nya?

Sewaktu mendapat pertanyaan ini, tiba-tiba merasa seperti tertuduh dalam hal hilangnya dukungan kepada pengguna. “loh, jadi kayak gini?”. Tapi apa boleh buat, kita memang harus membuat kesimpulan bersama bahwa kegiatan ini sudah kehilangan support atau mungkin support memang tidak ada. Masalah yang dihadapi mungkin akan lebih kompleks dikemudian hari karena dari obrolan kecil dengan pengguna di beberapa kabupaten percontohan menyebutkan setidaknya ada 3 hal yang menjadi masalah saat ini yakni:

  • Desain sistem (laporan) kurang memenuhi harapan
  • Data yang diperoleh kurang akurat dan tidak lengkap (untuk analisis data)
  • Perbenturan antara kemampuan teknis implementasi dan harapan yang sangat tinggi

Masalah umum yang terjadi adalah pada persoalan interaksi antara pengguna (dalam hal ini bidan) dengan perangkat IT seperti komputer kurang mendukung, tidak mengerti lingkungan dalam komputer dan tidak adanya support dari dinas kesehatan kabupaten dalam membantu masalah-masalah teknis dengan berbagai macam alasan.

Proses pengembangan sistem informasi, baik yang berdasarkan komputer atau tidak pada dasarnya sama dengan proses pengembangan dalam sistem engineering. Tahap-tahap perkembangannya meliputi:

  • Perencanaan
  • Analisis
  • Design
  • Implementasi dan
  • Perawatan

Saya kira fase terakhir ini yang tidak diperhatikan dan menjadi bahaya laten tentang gagalnya implementasi yang sudah mulai menggejala.

Nurdin Yahya

Buku PWS KIA BAB I : Pendahuluan

Ini adalah buku PWS KIA yang terbaru yang kami dapat dari Sub Direktorat Kesehatan Ibu yang merupakan pembahasan akhir dan hasil editing dari dr. Andi Ayusianto dan dr. Kirana. Buku ini terdiri dari 7 bab yakni :

  • Bab I      : Pendahuluan
  • Bab II    : Prinsip Pengelolaan Program KIA
  • Bab III  : Indikator Pemantauan
  • Bab IV   : Pengumpulan, Pencatatan & Pengolahan Data KIA
  • Bab V     : Analisis, Penelusuran Data Kohort & RTL
  • Bab VI   : Pelembagaan PWS KIA
  • Bab VII : Pelaksanaan dan Pelaporan PWS KIA

Ketujuh bab di atas akan kami sajikan dalam tujuh tulisan agar memudahkan pembacaan. Selanjutnya untuk versi lengkap akan kami sajikan dalam Box.net yang ditampilkan di sebelah kanan tulisan.

BAB I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) telah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1985. Pada saat itu pimpinan puskesmas maupun pemegang program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota belum mempunyai alat pantau yang dapat memberikan data yang cepat sehingga pimpinan dapat memberikan respon atau tindakan yang cepat dalam wilayah kerjanya. PWS dimulai dengan program Imunisasi yang dalam perjalanannya, berkembang menjadi PWS-PWS lain seperti PWS-Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) dan PWS Gizi.

Pelaksanaan PWS imunisasi berhasil baik, dibuktikan dengan tercapainya Universal Child Immunization (UCI) di Indonesia pada tahun 1990. Dengan dicapainya cakupan program imunisasi, terjadi penurunan AKB yang signifikan. Namun pelaksanaan PWS dengan indikator Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tidak secara cepat dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) secara bermakna walaupun cakupan pelayanan KIA meningkat, karena adanya faktor-faktor lain sebagai penyebab kematian ibu (ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dsb). Dengan demikian maka PWS KIA perlu dikembangkan dengan memperbaiki mutu data, analisis dan penelusuran data.

Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status kesehatan masyarakat. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup, AKN 19 per 1.000 kelahiran hidup, AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup.

Penduduk Indonesia pada tahun 2007 adalah 225.642.000 jiwa dengan CBR 19,1 maka terdapat 4.287.198 bayi lahir hidup. Dengan AKI 228/100.000 KH berarti ada 9.774 ibu meninggal per tahun atau 1 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Besaran kematian Neonatal, Bayi dan Balita jauh lebih tinggi, dengan AKN 19/1.000 KH, AKB 34/1.000 KH dan AKABA 44/1.000 KH berarti ada 9 Neonatal, 17 bayi dan 22 Balita meninggal tiap jam.

Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs, 2000) pada tahun 2015 diharapkan Angka Kematian Ibu menurun sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu 1990-2015 dan Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita menurun sebesar dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015. Berdasarkan hal itu Indonesia mempunyai komitmen untuk menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102/100.000 KH, Angka Kematian Bayi dari 68 menjadi 23/1.000 KH, dan  Angka Kematian Balita 97 menjadi 32/1.000 KH pada tahun 2015.

Penyebab langsung kematian Ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan (SKRT 2001). Penyebab langsung kematian Ibu adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Penyebab tidak langsung kematian Ibu antara lain Kurang Energi Kronis/KEK pada kehamilan (37%) dan anemia pada kehamilan (40%). Kejadian anemia pada ibu hamil ini akan meningkatkan risiko terjadinya kematian ibu dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Sedangkan berdasarkan laporan rutin PWS tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), eklampsia (20%), infeksi (7%) dan lain-lain (33%).

Menurut RISKESDAS 2007, penyebab kematian neonatal 0 – 6 hari adalah gangguan pernafasan (37%), prematuritas (34%), sepsis (12%), hipotermi (7%), kelainan darah/ikterus (6%), postmatur (3%) dan kelainan kongenital (1%). Penyebab kematian neonatal 7 – 28 hari adalah sepsis (20,5%), kelainan kongenital (19%), pneumonia (17%), Respiratori Distress Syndrome/RDS (14%), prematuritas (14%), ikterus (3%), cedera lahir (3%), tetanus (3%), defisiensi nutrisi (3%) dan Suddenly Infant Death Syndrome/SIDS (3%). Penyebab kematian bayi (29 hari – 1 tahun) adalah diare (42%), pneumonia (24%), meningitis/ensefalitis (9%), kelainan saluran cerna (7%), kelainan jantung kongenital dan hidrosefalus (6%), sepsis (4%), tetanus (3%) dan lain-lain (5%). Penyebab kematian balita (1 – 4 tahun) adalah diare (25,2%), pneumonia (15,5%), Necrotizing Enterocolitis E.Coli/NEC (10,7%), meningitis/ensefalitis (8,8%), DBD (6,8%), campak (5,8%), tenggelam (4,9%) dan lain-lain (9,7%).

Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. Sejak tahun 1985 pemerintah merancang Child Survival (CS) untuk penurunan AKB. Kedua Strategi tersebut diatas telah sejalan dengan Grand Strategi DEPKES tahun 2004.

Rencana Strategi Making Pregnancy Safer (MPS) terdiri dari 3 pesan kunci dan 4 strategi.

Tiga pesan kunci MPS adalah :

  1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
  2. Setiap komplikasi obsetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat.
  3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap upaya pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Empat strategi MPS adalah :

  1. Peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi dan Balita di tingkat dasar dan rujukan.
  2. Membangun kemitraan yang efektif.
  3. Mendorong pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat.
  4. Meningkatkan Sistem Surveilans, Pembiayaan, Monitoring dan informasi KIA.

Rencana Strategi Child Survival (CS) terdiri dari 3 pesan kunci dan 4 strategi.

Tiga pesan kunci CS adalah:

  1. Setiap bayi dan balita memperoleh pelayanan kesehatan dasar paripurna.
  2. Setiap bayi dan balita sakit ditangani secara adekuat.
  3. Setiap bayi dan balita tumbuh dan berkembang secara optimal.

Empat strategi CS adalah:

  1. Peningkatan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan balita yang berkualitas berdasarkan bukti ilmiah
  2. 2. Membangun kemitraan yang efektif melalui kerjasama lintas program, lintas sektor dan mitra lainnya dalam melakukan advokasi untuk memaksimalkan sumber daya yang tersedia serta memantapkan koordinasi perencanaan kegiatan MPS dan child survival.
  3. Mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui kegiatan peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku yang menunjang kesehatan ibu, bayi baru lahir dan balita serta pemanfaatan pelayanan kesehatan yang tersedia.
  4. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan balita.

Sehubungan dengan penerapan sistim desentralisasi dan memperhatikan PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan PP 41/2007 tentang Struktur Organisasi Pemerintah di Daerah, maka pelaksanaan strategi MPS di daerahpun diharapkan dapat lebih terarah dan sesuai dengan permasalahan setempat. Dengan adanya variasi antar daerah dalam hal demografi dan geografi maka kegiatan dalam program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) perlu disesuaikan.

Agar pelaksanaan program KIA dapat berjalan lancar, aspek peningkatan mutu pelayanan program KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas ditingkat Kabupaten/Kota. Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program di masing-masing wilayah kerja. Untuk itu, besarnya cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah kerja perlu dipantau secara terus menerus, agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai kelompok mana dalam wilayah kerja tersebut yang paling rawan. Dengan diketahuinya lokasi rawan kesehatan ibu dan anak, maka wilayah kerja tersebut dapat lebih diperhatikan dan dicarikan pemecahan masalahnya. Untuk memantau cakupan pelayanan KIA tersebut dikembangkan sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA).

B. Pengertian

Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat. Program KIA yang dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita. Kegiatan PWS KIA terdiri dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak/instansi terkait dan tindak lanjut.

Definisi dan kegiatan PWS tersebut sama dengan definisi Surveilens. Menurut WHO, Surveilens adalah suatu kegiatan sistematis berkesinambungan, mulai dari kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data yang untuk selanjutnya dijadikan landasan yang esensial dalam membuat rencana, implementasi dan evaluasi suatu kebijakan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan surveilens dalam kesehatan ibu dan anak adalah dengan melaksanakan PWS KIA.

Dengan PWS KIA diharapkan cakupan pelayanan dapat ditingkatkan dengan menjangkau seluruh sasaran di suatu wilayah kerja. Dengan terjangkaunya seluruh sasaran maka diharapkan seluruh kasus dengan faktor risiko atau komplikasi dapat ditemukan sedini mungkin agar dapat memperoleh penanganan yang memadai.

Penyajian PWS KIA juga dapat dipakai sebagai alat advokasi, informasi dan komunikasi kepada sektor terkait, khususnya lintas sektor setempat yang berperan dalam pendataan dan penggerakan sasaran. Dengan demikian PWS KIA dapat digunakan untuk memecahkan masalah teknis dan non teknis. Pelaksanaan PWS KIA harus ditindaklanjuti dengan upaya perbaikan dalam pelaksanaan pelayanan KIA, intensifikasi manajemen program, penggerakan sasaran dan sumber daya yang diperlukan dalam rangka meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA. Hasil analisis PWS KIA di tingkat puskesmas dan kabupaten/kota dapat digunakan untuk menentukan puskesmas dan desa/kelurahan yang rawan. Demikian pula hasil analisis PWS KIA di tingkat propinsi dapat digunakan untuk menentukan kabupaten/kota yang rawan.

C. Tujuan

Tujuan umum :

Terpantaunya cakupan dan mutu pelayanan KIA secara terus-menerus di setiap wilayah kerja.

Tujuan Khusus :

  1. Memantau pelayanan KIA secara Individu melalui Kohort
  2. Memantau kemajuan pelayanan KIA dan cakupan indikator KIA secara teratur (bulanan) dan terus menerus.
  3. Menilai kesenjangan pelayanan KIA terhadap standar pelayanan KIA.
  4. Menilai kesenjangan pencapaian cakupan indikator KIA terhadap target yang ditetapkan.
  5. Menentukan sasaran individu dan wilayah prioritas yang akan ditangani secara intensif berdasarkan besarnya kesenjangan.
  6. Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dan yang potensial untuk digunakan.
  7. Meningkatkan peran lintas sektor setempat dalam penggerakan sasaran dan mobilisasi sumber daya.
  8. Meningkatkan peran serta dan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan KIA.

Pelatihan Admin PWS di Banjarnegara

Kabupaten Banjarnegara, propinsi jawa tengah adalah salah satu daerah fokus unicef yang mendapat perhatian pengembangan kegiatan PWS KIA sejak tahun 2007. Kegiatan PWS KIA mulai dilaksanakan untuk 7 puskesmas sebagai percontohan dari 35 puskesmas yang ada di bawah pengelolaan dinas kesehatan kabupaten banjarnegara. Setelah berproses selama satu tahun secara insentif dalam kegiatan PWS, dinas kesehatan kabupaten banjarnegara mulai berbenah dengan perbaikan pengelolaan kegiatan PWS yang kemudian digabungkan dengan kegiatan SIMPUS yang berkoordinasi dengan bagian perencanaan.
DKK banjarnegara dalam rangka multiplikasi kegiatan PWS untuk semua puskesmas, pada tanggal 31 Jul – 1 Agst 2009 melasanakan kegiatan pelatihan administrator kabupaten yang di ikuti oleh 5 orang peserta. Kegiatan dilaksanakan di  Mes A-03  milik PT . Indonesia Power. Materi yang  manjadi bahan diskusi meliputi:

  • Pengenalan PWS
  • Platform program Kartini
  • Instalasi program Kartini untuk Puskesmas
  • Instalasi program Kartini untuk DKK
  • Integrasi dan Restore Data
  • Sistem Koneksi Program untuk Client – Server
  • Pengenalan Sistem Basis Data
  • Pengolahan data dengan program gateway to mysql dengan Navicate
  • FAQ (Frequently Ask Question)

Pelatihan Administrator PWS

Ada yang menarik pada proses pelatihan ini yakni, munculnya pembahasan dan keinginan untuk melakukan integrasi program antara kegiatan PWS dan kegiatan pelayanan yang terwadahi dalam program SIMPUS. Selain itu, dari hasil kegiatan PWS yang di entry ada satu puskesmas yang sangat luar biasa kemajuannya dalam proses pengumpulan data yakni puskesmas pejawaran. Data data yang terllihat pada program kartini diperolah jumlah data WUS sebanyak 6771 orang. Dari pengumpulan data WUS yang selama ini, kami lihat inilah data WUS yang paling banyak. Untuk puskesmas pejawaran kami ucapkan penghormatan dan penghargaan yang sebesarnya atas usaha dan komitmennya dalam mendukung kegiatan PWS. Bravo..

Taramita Tominuku di Alor – NTT

Taramita Tominuku kurang lebih berarti sama dengan bhineka tunggal ika, yakni berbeda-beda tapi tetap satu. Di Alor – NTT, frasa ini benar-benar melekat pada budaya masyarakatnya. Hal ini karena di dukung oleh banyaknya bahasa yang digunakan oleh penduduk setempat. Kurang lebih ada 52 bahasa dalam satu kabupaten yang tersebar pada puluhan pulau. Kabupaten ini berbentuk kepulauan dengan topografi perbukitan yang sangat banyak. Daerah yang sedang tumbuh dengan peradaban atau kegiatan pembangunan yang masih minin.

Dinas kesehatan Kabupaten mempunyai 20 Puskesmas yang kondisi puskemas masih sederhana dan sangat berjauhan. Salah satu puskesmasnya saja berjarak 8 jam perjalanan menggunakan motor kecil. Namun begitu, semangat untuk maju untuk daerah ini sangatlah luar biasa. Dengan fasilitas yang minim dan demografi yang sulit tetapi memiliki langkah besar untuk menerapkan kegiatan PWS KIA untuk semua puskesmas yang berjalan secara manual dan komputerisasi. Untuk 6 puskesmas yang ada di kepulauan dan perbukitan yang sulit di jangkau dimana fasilitas listrik belum tersedia akan berjalan secara manual sedangkan sisanya sudah bertekad untuk melaksanakan sistem penelusuran PWS KIA yang bersifat komputerisasi.

Setelah melakukan ujicoba selama satu tahun implementasi kegiatan PWS dengan format baru yang di danai oleh UNICEF pada dua puskesmas yakni puskesmas Mebung dan puskesmas Moru, maka tanggal 21-23 Juli 2009 di adakan kegiatan pelatihan PWS dengan format baru dengan mendatangkan fasilitator dari depkes yakni dr. Andi Ayusianto dan Nurdin Yahya. Kegiatan dilaksanakan di hotel Kenari dan diikuti oleh 18 puskesmas dengan utusan 2 orang untuk setiap puskesmas. P7210227

ST833092

Kegiatan dibuka oleh kepala dinas kesehatan dengan memperkenalkan semboyan revolusi PWS yang menargetkan penurunan 50% angka kematian Ibu dan Bayi di daerah tersebut, persalinan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Dr. Andi Ayusianto pada hari pertama pelatihan menjelaskan tentang konsep PWS KIA yang baru, metode analisa data, kerja sama lintas sektoral, sistem pelaporan dan penjelasan pengisian manual kartu ibu dan kartu bayi. Pada hari kedua dan ketiga di isi dengan pelatihan software kartini yang meliputi pengenalan komputer, fitur program, entry data, laporan dan cara install program kartini.

Sampai pada hari terakhir, sangat terasa semangat para peserta yang ingin segera mengimplementasikan model PWS yang baru. Bahkan, peserta mengkumandangkan perlunya pengorbanan untuk NKRI dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Bravo…, Semangat terus kawan-kawan di Alor-NTT dan semoga bisa menjadi percontohan di propinsi NTT.

Terima Kasih

Terima kasih. Inilah kata yang ingin kami ungkapkan kepada banyak pihak yang telah bekerja sama dengan kami. Untuk kami sebutkan beberapa pihak yang patut kami ucapkan terima kasih adalah kepada Unicef yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menjadi IT Fasilitator Consept di wilayah fokus unicef. Tentu saja juga ke Field Office Unicef yang ada di daerah dan telah memberikan dukungan untuk berinteraksi kepada user di lapangan. Kepada Depkes yang telah menerima dan mengakui kami sebagai tim yang mengembangkan software PWSKIA dan kepada teman-teman didaerah yang telah bekerja keras dalam mengimplementasikan kegiatan PWSKIA dan mengejewantahkannya dalam implementasi software Kartini.

Setelah bergelut dengan kegiatan Penelusuran PWSKIA selama kurang lebih 1 (satu) tahun, tentu saja bukan berarti kerja sudah selesai. Kenyataan yang didapat malah sebaliknya. Ada begitu banyak daftar kerja yang harus segera dilaksanakan. Ada butuh banyak kekauatan dan semangat yang sangat perlu di konsolidasikan. Dalam hal ini, koordinasi antara user (daerah) dan pemegang kebijakan (depkes) perlu mendapatkan konteks yang lebih tepat dan dalam untuk mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan mimpi-mimpi untuk mewujudkan cita-cita kegiatan Penelusuran PWSKIA.

Kegiatan Penelusuran PWSKIA ini bukannlah kerja perorangan tentunya. Ini adalah kerja bersama dari banyak pihak. Depkes, Unicef dan tentu saja rekan-rekan pelaksana di daerah menjadi kunci utama keberlangsungan kegiatan ini. Depkes punya peranan sangat penting dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi dengan daerah sedangkan unicef dalam konteks saat ini menjadi lembaga donor yang mendanai kegiatan Penelusran PWSKIA.

Terima Kasih. Sekali lagi kami ucapkan karena ungkapan ini ingin kami rangkai sebagai bagian dari ucapan perpisahan kami sebagai tim yang mengembangkan software Kartini. Perpisahan ini bukanlah sebuah keputusan yang kami inginkan akan tetapi memang kegiatan yang harus berhenti sampai pada tahap ini saja. UNICEF dalam konteks ini tidak tidak dilanjutkan lagi untuk melakukan pengembangan, perbaikan dan support dari kami.

Untuk memperkenalkan diri, kami adalah tim dari perusahaan yang bergerak di bidang Jasa Konsultan Telematika. Bidang usaha terutama pada pengembangan program komputer, networking dan pengadaan hardware. Perusahaan kami dikenal dengan nama KYS Techno Solution dan nama ini selalu terpatri dalam table-table dalam program database yang kami kerjakan. Software Kartini adalah salah satu produk software bidang kesehatan yang telah kami kembangkan.

Untuk kawan-kawan didaerah yang telah menerapkan program Kartini, kami tetap akan memberikan dukungan untuk melakukan pengembangan, perbaikan dan juga trouble shooter. Namun begitu, dukungan ini adalah bentuk tanggung jawab kami kepada kawan-kawan semua agar tetap bisa melaksanakan kegiatan PWS. Namun demikian, dukungan ini adalah murni inisiatif kami dan bukan kegiatan UNICEF atau DEPKES.

Ada beberapa kelemahan dari software ini yang belum kami jelaskan pada proses pelatihan. Penanganan untuk level administrator juga belum kami berikan. Untuk pengembangan software ini selanjutnya juga belum kami transformasikan ilmunya kepada teman-teman di depkes atau pengelola didaerah. Untuk hal ini, kami ucapkan permohonan maaf. Untuk itu, jika ada persoalan yang terkait dengan masalah Software Kartini mohon segera mengkonformasikannya ke Depkes terlebih dahulu atau silahkan layangkan surat resmi ke Kesibu Depkes untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Tentu sangat disayangkan jika kegiatan ini berhenti ditengah jalan. Inisiatif, kerja sama dan proaktif dari kawan-kawan didaerah tentunya akan memberikan dorongan agar kegiatan pengembangan software PPWSKIA dilanjutkan. Kami sangat PRO-DAERAH, dan Ingin me-LANJUTKAN kegiatan ini dan tentu akan menjadi LEBIH CEPAT,LEBIH BAIK dibandingkan harus membuat ulang program ini.

Bagi Teman-teman daerah yang ingin mendapatkan CD Kartini dapat mengontak kami langsung di blog ini atau emailkan ke nurdin_yahya@yahoo.com. InsyaALLAH akan kami kirimkan dan mohon berkenan untuk mengganti ongkos kirimnya saja.

Terima Kasih.

Nurdin Yahya, 085228036497.

Foto Kegiatan Mini University

Update Data Demograsi/Wilayah

Nah, ini dia data lokasi/demografi yang sudah diperbaharui. Penambahan dan perubahannya ada pada kab. lebak-Banten, Kota Madiun_Jatim, Kab. Takalar-Sulsel dan Kab.Bireun_NAD. Mohon semua daerah mengupdate data ini dan bagi kawan-kawan yang meresa bahwa data kabupeten, kecamatan dan desa diwilayahnya belum sesuai atau belum masuk di database mohon segera mengirimkan daftaranya.

Langkah untuk update database wilayah adalah:

  1. Lakukan backup database terlebih dahulu dengan menggunakan fasilitas “Dump SQL Files..” dari program Navicate (Jangan mengabaikan langkah ini, karena jika eksekusi gagal ataupun berhasil bisa berakibat pada perubahan data anda!!!).
  2. Download file kys_m_lokasi.rar yang ada pada BOX file Kartini yang berada di kanan atas blog ini dengan cara langsung mengkilik file tersebut dan simpanlah di direktori komputer anda (Jika di komputer anda BOX Kartini belum terlihat file-nya maka download aja dulu file flash yang mendukung aplikasi ini. Caranya langsung aja click BOX Kartini dan komputer akan langsung mendownload file yang dibutuhkan).
  3. Jika Box File Kartini tidak terlihat list file yang bisa di click dan hanya tertulis click here to download plugin maka itu artinya anda perlu menginstall terlebih dahulu program Adobe Flash Player. Kalo anda tidak memiliki program installernya maka langsung aja click tulisan click here to download plugin dan selanjutnya ikuti langkah penginstalan sampai selesai.
  4. Setelah download berhasil maka ekstrak file tersebut dengan menggunkan program winrar atau winzip dan hasilnya menjadi file dengan nama kys_m_lokasi.sql (Isi file ini adalah printah program (script) mysql, jadi gak harus ngerti cara membacanya. Yang penting ikuti langkah-langkahnya aja ya).
  5. Lanjutkan langkah berikutnya dengan membuka program navicate dan aktifkan database ppwskia trus click kanan untuk menampilkan fitur Execute Batch File…
  6. Ketiga Dialog File muncul maka carilah file kys_m_lokasi.sql yang merupakan hasil ekstrak yang dilakukan pada langkah sebelumnya.
  7. Setelah ketemu maka pilih file tersebut dan tekan tombol OPEN untuk menjalankan perintah eksekusi file.
  8. Tunggu sampai proses berhasil atau muncul pesan “succsesfull..”
  9. Kalo sudah berhasil maka silahkan lihat hasilnya dengan membuka program kartini dan lihat daftar desanya.
  10. Oya, jangan lupa untuk memperhatikan alias mencermati data anda. Jika terjadi perubahan data yang menurut analisis anda data jadi berubah alias tidak sesuai maka BATALKAN kegiatan pada langkah-langkah diatas dengan menghapus lagi semua table dan silahkan gunakan kembali data lama anda dari backup data yang sudah dilakukan pada langkah 1.
  11. Segera beri koreksi atas kesalahan data yang terjadi dengan cara memberi komentar pada tulisan ini (Klik saja tulisan Tidak Ada komentar atau N komentar dibagian bawah tulisan ini. Jangan lupa menuliskan nama anda, email dan komentar anda).
  12. Kalo masih bingung juga silahkan email ke nurdin_yahya@yahoo.com atau call ke 085228036497.

Oya, untuk pak farhan di puskesmas Cipanas silahkan dicoba pak dan gak usah ragu dan sungkan kalo mo menghubungi langsung. InsyaAllah kami senang bisa bersinergi dan saling membantu.

Selamat Mencoba.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.