Kodefikasi Penelusuran PWS KIA

Pada sistem PPWS ini yangdisebut sebagai kodefikasi adalah aturan pokok yang menyusun sistem transaksi sampai dengan laporan PPWS. Kodefikasi ini meliputi:

  1. Pengkodean Data Demografi
  2. Pengkodean No. WUS
  3. Pengkodean No. Bayi

PENGKODEAN DATA DEMOGRAFI:

Data demografi adalah kumpulan data yang mengidentifikasi wilayah diseluruh indonesia yang meliputi pengkodeaan propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Sistem kodefikasi yang digunakan mengikuti standar depdagri dengan sumber data yang digunakan berasal dari data BPS tahun 2005. Penjelasan Kodefikasinya adalah:

XX.XX.XXX.XXX = Total Digit adalah 10

xx    : Dua digit pertama menunjukan kode propinsi

xx    : Dua digit kedua menunjukan kode kabupaten

xxx : Tiga digit ketiga menunjukan kode kecamatan

xxx : Tiga digit keempat menunjukan kode desa

Contoh: 33.07.090.001  kalo dibaca sbb:

33     : menunjukan kode propinsi Jawa Tengah

07    : menunjukan kode kabupaten wonosobo

090 : Menunjukan kode Kecamatan Wonosobo

001 : Menunjukan kode desa Tawangsari

Kalo dibaca secara keselurahan berarti Desa Tawang Sari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah.

PENGKODEAN NO. WUS

Yang disebut sebagai WUS (Wanita Usia Subur) di sini adalah penduduk berjenis kelamin perempuan dengan usia 15 s.d 49 Tahun. Berdasarkan konsep penelusuran PWS yang menekankan pada term wilayah setempat maka penelsuran oleh bidan hanya diakui pada pelaporannya untuk data WUS dengan identifikasi sebagai penduduk setempat yang ditandai dengan kepemilikan KTP atau yang telah menetap selama 6 bulan sesuai dengan ketentuan depdagri. Artinya, jika sasaran bukan penduduk setempat (bukan KTP setempat) dan hanya berdomisili pada wilayah tertentu maka dibawah kurun waktu 6 bulan maka tidak perlu dicatat di laporan PWS dan hanya diberikan pelayanan saja.

Untuk kasus Sasaran yang pindah pendudukan (baik pindah desa atau pindah kecamatan atau pindah kabupaten atau pindah propinsi) maka semua record data pelayanan yang pernah diberikan akan ikut serta ke tempat tujuan dimana sasaran berpindah domisili.

Nah, Kodefikasi untuk nomor WUS sbb:

Kode Demografi + 6 digit (No Urut) atau

XX.XX.XXX.XXX.XXXXXX

Contoh : 33.07.090.001.000001 : Desy Triana

Dibaca Ny Decy Triana dari Desa Tawang Sari-Wonosobo

KODEFIKASI NO. BAYI

Untuk kodefikasi bayi disini menganut prinsip family forlder yang mengacu pada nomor Ibu yakni:

No. WUS – 2 digit

XX.XX.XXX.XXX.XXXXXX-XX

2 digit akhir menunjukan nomor urut anak dari ibunya.

Contoh: 33.07.090.001.000001 -01 : Gayatri Ananta Kirani Al-Mufidah

dibaca Gayatri sebagai Anak Pertama dari Ibu Decy.

PERSOALAN YANG DIHADAPI:

Kalo disimak dari sistem kodefikasi yang dibangun maka dapat dibuat kesimpulan sederhana bahwa basis pengkodeaan menggunakan sistem community base yang mengacu pada kodefikasi wilayah. Dari sini langsung dapat pula dibuat kesimpulan kedua bahwa untuk mengimplementasikan sistem ini secara nasional maka diperlukan fasilitas atau kelengkapan data wilayah/demografi secara nasional. Kalo fasilitas yang diberikan berupa fitur pada program kartini untuk melakukan penambahan atau perubahan pada data master (demografi) maka hal ini akan mengakibatkan munculnya kendala dalam sistem integrasi ke depkes apalagi sistem ini belum bisa dijalankan secara online dikarenakan kendala infrastruktur, pendanaan, dll.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya apalagi sejak tahun 2005 jumlah pemekaran wilayah baik propinsi, kabupaten, kecamatan bahkan desa sudah berkembang cukup banyak?

Jawabannya simple banget: Semua daerah harus segera secara aktif melaporkan jumlah wilayah yang ada di daerahnya saat ini ke depkes dan setelah itu, dari pusat melakukan kompilasi data secara aktif pula.

Mungkin muncul pula pertanyaan Seberapa Lama Akan selasai?

Kalo pesimis maka pasti akan lama tapi kalo optimis dan sekarang anda langsung memberikan komentar dan masukan sekaligus menginformasikan data wilayah dan jumlah puskesmas di daerah anda maka akan segera diselesaikan. Nah, kami sebagai moderator dalam hal ini.

Untuk beberapa daerah yang sudah mengajukan keluhan akan hal ini mohon segera aktif terlibat. Kami sudah memperoleh data dari Propinsi Aceh, Kecamatan Cipanas dan juga kabupaten takalar. Untuk kawan-kawan yang lain mohon segera mengirimkan ya..🙂 terutama propinsi Kalbar yang waktu dibandung langsung “mengadukan ke pak Lukas” he..he..

Salam PPWS:  “Kerja sama dan sama-sama kerja”

Nurdin Yahya

5 Tanggapan to “Kodefikasi Penelusuran PWS KIA”

  1. anis Says:

    Sudah pernah mencoba menyosialisasikan hal ini dengan kantor kependudukan/capil di berbagai daerah yang mengimplementasikan sistem ini?
    Jika sudah, bagaimana hasilnya?

  2. ppwskia Says:

    Belum pak anis, yang ada adalah koordinasi antar bidan desa dengan aparat desa. Saat ini juga sedang dikembangkan sistem Penelusuran PWS yang bersifat lintas sektoral. Jawa barat jadi pelopor dalam konsep ini. Apa pak anis punya pengalaman yang bisa kami pelajari dari sistem kodefikasi atau mungkin ada masukan mungkin untuk sinkronisasi dalam konteks SIKNAS misalnya🙂

  3. anis Says:

    saya agak tergelitik dengan database WUS. Bagaimana kita bisa tahu bahwa mbak Desi/Tricia atau siapapun sudah masuk kelompok WUS?
    Mungkin saya malah harus belajar bagaimana kerjasama dengan aparat desa. Kami mencoba menjajaki hal ini dalam beberapa kegiatan SIKDA. Di Balikpapan berhasil, tetapi yang belum berjalan adalah updating database setelah database kependudukan didistribusikan ke puskesmas. Ada juga di kabupaten lain, tetapi tidak berhasil karena mereka bersikukuh dengan UU 23/2006 tentang kerahasiaan data. Softcopy database tidak bisa diberikan, tetapi mereka mau memberikan fotokopi KK seluruh warga 🙂

  4. moko Says:

    menaggapi sdr. anis.
    kami mencoba membuat kodefikasi no kartu keluarga (KK) dan nomor rekam medik (RM) pada program SIMPUS yang berjalan di puskesmas kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, seperti yang jalankan pada kodefikasi di PWS KIA, dengan modifikasi :

    Nah, Kodefikasi untuk nomor KK sbb:

    Kode Demografi (saya ambil kode kecamatan dan desa) + 4 digit (No Urut) atau

    XXX.XXX.XXXX

    Contoh : 090.001.000001 : Desy Triana

    Dibaca keluarga sumanto dari Desa Tawang Sari, kecamatan Wonosobo

    KODEFIKASI NO. RM (untuk tiap anggota keluarga)

    Untuk kodefikasi RM disini menganut prinsip family forlder yang mengacu pada nomor Ibu yakni:

    No. KK – 2 digit

    XXX.XXX.XXXX-XX

    2 digit akhir menunjukan nomor urut dalam anggota keluarga.

    Contoh: 090.001.0001 -03 : Gayatri Ananta Kirani Al-Mufidah

    dibaca Gayatri sebagai anggota keluarga / Anak Pertama KK sumanto.

    yang menjadi kendala adalah, fasilitas SIMPUS, tidak mendukung entry data dengan jumlah banyak digit. (posisi pada fasilitas mememasukan data pasien (tidak lewat pendaftaran) , pada pemberian no KK dan no. RM).

    dan banyak kekurangan- kekurangan lain (teknis) yang lain yang sangat mendasar.

  5. Anis Says:

    pak Moko,
    terima kasih atas masukkannya. Kemarin sudah ada pertemuan dengan pak Nurdin untuk sharing data yang sudah ada di SIMPUS. Semoga dalam waktu dekat kita bisa melihat ada pertukaran data antar kedua aplikasi ini.
    Jika ada waktu dan berkenan, pada pertemuan kedua pak Moko bisa ikut hadir saya akan baik untuk perbaikan aplikasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: