Taramita Tominuku di Alor – NTT

Taramita Tominuku kurang lebih berarti sama dengan bhineka tunggal ika, yakni berbeda-beda tapi tetap satu. Di Alor – NTT, frasa ini benar-benar melekat pada budaya masyarakatnya. Hal ini karena di dukung oleh banyaknya bahasa yang digunakan oleh penduduk setempat. Kurang lebih ada 52 bahasa dalam satu kabupaten yang tersebar pada puluhan pulau. Kabupaten ini berbentuk kepulauan dengan topografi perbukitan yang sangat banyak. Daerah yang sedang tumbuh dengan peradaban atau kegiatan pembangunan yang masih minin.

Dinas kesehatan Kabupaten mempunyai 20 Puskesmas yang kondisi puskemas masih sederhana dan sangat berjauhan. Salah satu puskesmasnya saja berjarak 8 jam perjalanan menggunakan motor kecil. Namun begitu, semangat untuk maju untuk daerah ini sangatlah luar biasa. Dengan fasilitas yang minim dan demografi yang sulit tetapi memiliki langkah besar untuk menerapkan kegiatan PWS KIA untuk semua puskesmas yang berjalan secara manual dan komputerisasi. Untuk 6 puskesmas yang ada di kepulauan dan perbukitan yang sulit di jangkau dimana fasilitas listrik belum tersedia akan berjalan secara manual sedangkan sisanya sudah bertekad untuk melaksanakan sistem penelusuran PWS KIA yang bersifat komputerisasi.

Setelah melakukan ujicoba selama satu tahun implementasi kegiatan PWS dengan format baru yang di danai oleh UNICEF pada dua puskesmas yakni puskesmas Mebung dan puskesmas Moru, maka tanggal 21-23 Juli 2009 di adakan kegiatan pelatihan PWS dengan format baru dengan mendatangkan fasilitator dari depkes yakni dr. Andi Ayusianto dan Nurdin Yahya. Kegiatan dilaksanakan di hotel Kenari dan diikuti oleh 18 puskesmas dengan utusan 2 orang untuk setiap puskesmas. P7210227

ST833092

Kegiatan dibuka oleh kepala dinas kesehatan dengan memperkenalkan semboyan revolusi PWS yang menargetkan penurunan 50% angka kematian Ibu dan Bayi di daerah tersebut, persalinan oleh tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan. Dr. Andi Ayusianto pada hari pertama pelatihan menjelaskan tentang konsep PWS KIA yang baru, metode analisa data, kerja sama lintas sektoral, sistem pelaporan dan penjelasan pengisian manual kartu ibu dan kartu bayi. Pada hari kedua dan ketiga di isi dengan pelatihan software kartini yang meliputi pengenalan komputer, fitur program, entry data, laporan dan cara install program kartini.

Sampai pada hari terakhir, sangat terasa semangat para peserta yang ingin segera mengimplementasikan model PWS yang baru. Bahkan, peserta mengkumandangkan perlunya pengorbanan untuk NKRI dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Bravo…, Semangat terus kawan-kawan di Alor-NTT dan semoga bisa menjadi percontohan di propinsi NTT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: