Bahaya Kegagalan Sistem Informasi

Tiba-tiba muncul keluhan dari ujung telpon: “Pak, saya dari kabupaten anu mau install program kartini tapi gagal”. Lalu di ikuti dengan sms penjelasan bahwa minggu lalu mereka mendapat pelatihan dari tim ini atau tim itu. Bukan keluhan seperti itu saja, hampir setiap minggu dengan volume rutin ada saja yang mengeluh tentang: ” Pak, saya sudah install tapi tidak bisa login dengan pesan Invalid user name and password, gimana ya. Tolong pak, kami butuh bimbingan”.

Fenomena seperti ini bukanlah hal baru dalam dunia IT. Pada konteks implementasi sistem informasi memang selalu muncul kejadian seperti ini. Bukan diluar dugaan kalau fenomena seperti ini juga terjadi pada implementasi program kartini yang menjadi alat pendukung utama dalam pengolahan data kegiatan PWS KIA. Lalu muncul pertanyaan dari beberapa sahabat di daerah yang sudah mengimplementasikan kegiatan ini lebih dahulu dibandingkan dengan daerah lain yang masih permulaan: Kenapa sih pak program ini tidak dilanjutkan sampai tuntas? Kenapa sih kegiatan seperti ini harus sama nasibnya dengan kegiatan-kegiatan lain? Atau kalau ada masalah teknis di lapangan siapa yang akan membantu menangani-nya?

Sewaktu mendapat pertanyaan ini, tiba-tiba merasa seperti tertuduh dalam hal hilangnya dukungan kepada pengguna. “loh, jadi kayak gini?”. Tapi apa boleh buat, kita memang harus membuat kesimpulan bersama bahwa kegiatan ini sudah kehilangan support atau mungkin support memang tidak ada. Masalah yang dihadapi mungkin akan lebih kompleks dikemudian hari karena dari obrolan kecil dengan pengguna di beberapa kabupaten percontohan menyebutkan setidaknya ada 3 hal yang menjadi masalah saat ini yakni:

  • Desain sistem (laporan) kurang memenuhi harapan
  • Data yang diperoleh kurang akurat dan tidak lengkap (untuk analisis data)
  • Perbenturan antara kemampuan teknis implementasi dan harapan yang sangat tinggi

Masalah umum yang terjadi adalah pada persoalan interaksi antara pengguna (dalam hal ini bidan) dengan perangkat IT seperti komputer kurang mendukung, tidak mengerti lingkungan dalam komputer dan tidak adanya support dari dinas kesehatan kabupaten dalam membantu masalah-masalah teknis dengan berbagai macam alasan.

Proses pengembangan sistem informasi, baik yang berdasarkan komputer atau tidak pada dasarnya sama dengan proses pengembangan dalam sistem engineering. Tahap-tahap perkembangannya meliputi:

  • Perencanaan
  • Analisis
  • Design
  • Implementasi dan
  • Perawatan

Saya kira fase terakhir ini yang tidak diperhatikan dan menjadi bahaya laten tentang gagalnya implementasi yang sudah mulai menggejala.

Nurdin Yahya

9 Tanggapan to “Bahaya Kegagalan Sistem Informasi”

  1. Farhan Herli Says:

    saya sangat kagum dengan analisa pak nurdin, mengenai “bahaya kegagalan sistem informasi”=” > suport dari dinkes”.
    karena memang demikan realitanya…..
    contoh kecil : ada diantaranya yg mengatakan : “untuk menghasilkan analisa yg tepat harus didasari dengan data yang akurat…”, tetapi ketika disodorkan satu alat bantu (software kartini), yg jelas2 menghasilkan data riiiilll, ee… diem aje….. apa kaga ngerti gitu,ya ??

  2. ppwskia Says:

    Yang diam aja siapa pak farhan? Kalo kagak ngerti apa kata dunia ya? Kebanyakan program komputer memang karakter pokoknya terbaca di dinas kesehatan. Artinya, kalau ada creative minority di sana maka kegiatan biasanya berjalan dengan baik. walaupun susah payah, menguras tenaga tapi kalo emang suka pasti tetap di jalani. Beda memang kalo gak suka maka gak bakal jatuh cinta.

  3. Farhan Herli Says:

    diiih.. pake istilah jatuh cinta segala…………… pokoknya bravfpo lah buat pak nurdin…

  4. wahyu Says:

    setuju Bos wong sepeda kita aja perelu perawatan.tapi kenapa para pejabat kita lupa ya………

  5. wahyu Says:

    oke pak herli maju terus pantang mundur walau pun tanpa amunisi. kita kan pasukan berani mati mudah-mudahan ga mati konyol ha ha ha aha

    salam kangen buat guru besar ppwskia pak nurdin dan kawan-kawan

  6. Puskesmas Sungai Ayak Says:

    Hal yang mungkin menjadi kendala bagi puskesmas dalam mengimplementasikan Program Kartini adalah kemampuan sdm nya dalam hal berkomputer. Banyak petugas di Puskesmas yang bahkan main Excel saja masih susah. Manakal Program Kartini disodorkan, tanya lagi. Apa pula ini ? Bahkan seorang teman dari Dinkes Kabupaten saya yang baru beberapa minggu lalu mengikuti pelatihan program Kartini, bilang ke saya. “Pak, bisa tolong instalkan program ini di komputer kami ? (Maksudnya komputer yang ada di seksi nya di dinkes)
    Lho, apa ndak terbalik ini dunia ? Dia yang ikut pelatihan, koq saya yang diminta tolong ? Akhirnya saya iyakan juga permintaannya.
    Setelah explorer terlebih dulu dan mencari manualnya, lalu mempelajari manual dengan seksama, saya pun mulai menginstal satu per satu sesuai petunjuk. Syukurlah, pada akhirnya instal berhasil dengan baik, dan program bisa dioperasikan dengan lancar.
    Masalah instal sudah selesai. Selanjutnya adalah user. Apakah mampu mengoperasikannya ?
    Barangkali ini menjadi PR lagi buat tim IT Kartini agar ke depan dapat menciptakan program yang benar-benar dapat digunakan di Puskesmas, bukan saja Puskesmas Perkotaan, tapi Puskesmas Pedalaman yang kemampuannya ber IT sangat minim.
    Terima kasih

  7. ppwskia Says:

    sulit untuk memberikan penjelasan teknis terhadap persoalan yang kita hadapi di tingkat implementator. Dalam konteks pemahaman yang integratif kita sangat mengerti bahwa beban terbesar terhadap kesuksesan program ini terletak pada inisiatif dan komitmen kawan-kawan yang ada di puskesmas. Masalah kapasitas dalam mengoperasional kamputer saya kira manjadi masalah yang cukup merata untuk sekian ratus kabupaten. Tidak hanya di pedesaan atau di luar jawa saja. Tetapi juga mencakup keseluruhan.
    Persoalannya adalah bagaiman kita melakukan akselesari terhadap upaya penyusunan sistem informasi ini dalam rangka mempermudah kerja bidan desa, bidan koordinator dan seluruh kawan-kawan yang berkepentingan dengan data ini. Sejatinya memang harus ada petugas administrator di tingkat kabupaten yang ditugasi untuk membantu proses implementasi sistem informasi ini sekaligus menjadi pendamping dalam mengoperasionalkan program kartini. Mudah-mudahan di daerah anda bisa terbentuk tim seperti ini.

  8. Jojok Says:

    sekedar saran Boss Nurdin…
    Simpus saya cukup masukkan CD, autorun, pilih Simpus atau Simpustu, klik… 1 menit sudah siap saji… untung gak pake My Sql hehehe…

    ayoooooo… pasti bisa dibikin seperti itu…🙂

  9. ppwskia Says:

    Sip. Kita dulu juga maunya begitu. Emang pake mesin database apa?
    bisa juga tuh kita sharing technologinya. Oya, implementasi di sukoharjo gmana bos? Apa sudah berhasil?
    Boleh dong kita studi lapangan. Biar dapat masukan dan perbandingan. Hitung-hitung untuk kemajuan bersama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: